Di atas meja luka Mengepul segelas jus nanah beraroma cinta
Kumpulan dari tetes-tetes airmata yang menahun
Menggenang di lorong-lorong pengap Kesunyian
Menyita jiwa bermeditasi raga
Embun-embun doa menguap melintasi mayapada
Membawa segenggam harap mengetuk pintu surga
Di atas meja luka
Terhidang segelas jus nanah
Mengepul pelan harapan yang hampir tumpah
Minggu, 03 Juli 2011
BOLEHKAH AKU BERHARAP By Cucun Naizari
Wahai langit legam purnama yang memerah
malam yang galau
bolehkah aku berharap?
pada mimpi yang terajam hampir tertanam di gua darah
cinta mendaging menulang pada tubuh nafasku
Rindu membungkus raga rapuh yang membiru
O... Angin yang bertasbih
Daun yang luruh dalam sujud
Alam yang larut dalam hening doa
Bolehkah aku berharap?
meski jejak semakin mengabur dalam badai ketidakpastian
terapung menunggu keputusan
Semoga sejalan keinginan
malam yang galau
bolehkah aku berharap?
pada mimpi yang terajam hampir tertanam di gua darah
cinta mendaging menulang pada tubuh nafasku
Rindu membungkus raga rapuh yang membiru
O... Angin yang bertasbih
Daun yang luruh dalam sujud
Alam yang larut dalam hening doa
Bolehkah aku berharap?
meski jejak semakin mengabur dalam badai ketidakpastian
terapung menunggu keputusan
Semoga sejalan keinginan
Labels:
Poem
MEMASUNG WAKTU By Cucun Naizari
Waktu berlari tak pernah menepi
Memotong detik menit yang terlewati
Melesat gesit melewati halaman kenangan yang ingin selalu kudekapi
Aku ingin memasung waktu di sini
Detik, menit, pada lubang hari di mana hati bisa memelukmu seutuhnya...
Memotong detik menit yang terlewati
Melesat gesit melewati halaman kenangan yang ingin selalu kudekapi
Aku ingin memasung waktu di sini
Detik, menit, pada lubang hari di mana hati bisa memelukmu seutuhnya...
Labels:
Poem
Kamis, 30 Juni 2011
Event : Pohon Favoritku
Bismillahirahmanirrahim
Menyambut kelahiran Kumcer Perdana KPS “Pohon Keberuntungan”, Komunitas Pena Santri didukung LeutikaPrio mengadakan Event Pohon favoritku berhadiah buku dan Pulsa. Simak ketentuannya:
- Sebutkan pohon favorit Anda beserta alasannya. Boleh pohon dalam arti sesungguhnya, misal : “Saya suka pohon kelapa, semua bagiannya berguna, dari akar hingga daunnya”. Boleh juga pohon dalam makna kias, misal : “Aku suka pohon rindu. Di bawah rimbun daunnya aku selalu menunggu sinar harapan, takzim!”
- Lampirkan (Copy-Paste) info event ini beserta Hot News dan Cover “Pohon Keberuntungan” (Pilih salah satu cover).
- Posting di catatan FB atau Blog. Untuk catatan FB tag minimal 15 teman, kemudian tautkan link catatan anda di dinding Grup KPS (Komunitas Pena Santri). Untuk Blog, daftarkan (registrasi) ke inboks akun FB Komunitas Pena Santri dengan menyebutkan, a. Nama Asli. b. Nama di Facebook. C. Alamat Blog (Link Blog).
- Event ini berlangsung sampai 30 juni 2011.
Hadiah :
- 5 Orang yang beruntung (3 catatan Fb dan 2 blog) berhak mendapat masing-masing satu buku terbitan Leutika Publisher (Judul Boleh Memilih).
- 4 orang lain (2 Fb, 2 Blog) Berhak mendapat voucher pulsa @ Rp. 10.000.
Dinding Grup KPS (komunitas Pena Santri) :
http://www.facebook.com/group.php?gid=237432105401
Akun Fb Komunitas Pena Santri :
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000760083208
Nb : Salah satu aspek penilaian adalah keunikan jawaban.
Mari Berpartisipasi. Salam Pena.
Komunitas Pena Santri, www.pena-santri.blogspot.com & LeutikaPrio, www.leutikaprio.com
Ssssttt! InsyaAllah nanti akan ada event khusus untuk pembeli dan pembaca Kumcer “Pohon Keberuntungan” ini , so… jangan ragu, beli bukunya ya!
****
HOT NEWS
Telah terbit di LeutikaPrio!!!
Judul : Pohon Keberuntungan
Penulis : Akhi Dirman Al-Amin, Prito Windiarto, Dkk
Tebal : vii + 91 hlmn
Harga : Rp. 27.700,-
ISBN : 978-602-8597-89-0
Sinopsis
Pohon Keberuntungan
Pohon keberuntungan? Sebuah judul yang mungkin membuat penasaran, apa maksudnya? Seperti apa alur cerita? Apakah berkisah tentang pohon berdaun uang, dan memberi keuntungan finansial? Ah… rupanya bukan. Cerpen ini berkisah tentang cinta, cinta yang kembali tumbuh (setelah layu) “berkat” Pohon Keberuntungan. Cerpen bersetting Jogja ini mengajak kita memahami cinta dan harapan.
Pohon keberuntungan adalah satu dari sebelas cerpen dalam Kumcer Komunitas Pena Santri. Didalamnya terdapat dua batang pohon : Pohon Cinta dan Pohon Kehidupan.
Pohon Cinta yang terdiri dari enam cerpen mencoba menghadirkan warna cinta. Keriangan, kebahagiaan, kesetiaan, keharuan, kehampaan bahkan kehancuran karena cinta.
Pohon Kehidupan yang terdiri dari lima cerpen mencoba memotret ragam hidup. Hidayah, Optimisme, Keserakahan, kegalauan, prahara, bahkan kesendirian menyiksa yang dibalut dalam alur apik nan unik.
Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!
Sebagian Royalti akan digunakan untuk pengembangan Komunitas Pena Santri.
Info lebih lanjut, silakan klik www.pena-santri.blogspot.com
Labels:
Lomba-lomba
Selasa, 07 Juni 2011
Es Coret Biji Semangka 1~Bad Mood
Waaaahhhh.... Sebel! Sebel! Sebel! Tugas numpuk, jadwal ulangan padet, aarrghhhh... sebeeellll!!!! Udah gitu, temenku malah nambahin masalah. Apa sih, maunya? Bikin bad mood aja, dah! Huh!
Bad mood? Ngapain bad mood? Bikin rugi diri sendiri, tau!
Setiap orang mempunyai cara buat ngatasin bad moodnya. Mau tahu gimana teman-teman Biji 1 dalam nanganin bad mood? Yuuuk ... mariii!!! Cekidoottt :
1. Fransiska Manginsela
Biasanya, mba siska kalau lagi bad mood nglakuin;
a. Perbanyak dzikir atau ngaji, wahhh boleh juga tuuh,,, yuuk bagi yang muslim ikuti yak!
b. Maem es krim, wahhh jadi kebayang es krim kesukaanku, rasa coklat berlapis coklat, hahaha
c. Di tuangkan ke dalam tulisan atau diary, bagi yang suka curhat di diary, jangan lupa nabung, yak! Kan semakin sering kamu bad mood, semakin banyak tulisan dan tentunya kalau diary-nya sampai abis harus beli lagi, donk! :D
d. Jalan-jalan sama teman-teman,, hemm ke mana yak? Menurut kalian ke mana? Kalau aku sendiri yang penting bukan ke sekolah. Kenapa? Malah bikin bad mood dong! Liat matematika aja langsung naik drastis tensi bad moodnya, haha
2. Reyna Alshira
Menurut mbak yang satu ini, pertama itu, kita cari dulu apa penyebab bad moodnya. Kemudian kita selesein deh.
Yang ke dua, kumpul-kumpul bareng sahabat yang lucu-lucu
3. Najma Amania
Menurut mba Cucun, biasanya dia lebih memilih diem. Wahh,, stay cool hehe... bagus, bagus dengan diam bisa ngurangin dosa kita. Ya, ngga? Abis nanti kalau kita ngomong pasti ngga berenti-berenti trus nglanturnya ngga tau ke mana. Huahh tettt ttoott!!!
4. Intan Luphful Vierania
Adek imut ini yang dari namanya udah ketahuan penggemar berat 1 ton (emang berat badan-gajah? Haha) Viera, punya cara sendiri lhoo, nih ya...
Pertama, dengerin musik, terus nyanyi *bagi yang fals ngga usah ya, ntar malah bikin yang denger jadi bad mood :P, kemudian UBEK-UBEK BAJU buat model kombinasi baju, nulis cerpen, baca novel, ke rumah temen *ngapain, dek? Numpang makan, yak? Hehe, terus ngga ketinggalan SMS-an... pokonya menurut dia masiiiiih banyak lagi.
5. Dyan Prameswari
Saat kutanyai, mba kalau bad mood sih biasanya ngapain? Dia menjawab, nulis di blog, curcol di blog, kalo ngga nyanyi. Wahhh hobinya ngeblog niihh... siapa mau belajar silakan delivery order di 14045 *Hahaha nomor KFC nyasar* kalau ngga, dial ke 080989999 *gubrak, emang mau pasang modem? Haha ....
6. Rustin Woro Indriyani
Tidur serta mengatur nafas dengan teratur membuatnya merasa tenang. Betul, betul, betul??? Wahh,, jadi kayak abis lari-lari, yah! Hmm .... coba, sekarang yang lagi bad mood praktekkan, TARIK NAFA....SSSS tahan-tahan-tahan, eh bentar ada sms, mau bales dulu.
7. Dina Layla
Wah mba yang kerap kusapa dindinudin ini, ternyata kalau lagi bad mood, sukanya nyetel musik keras-keras *wuuiih pantesan kaca jendela tetangganya pada pecah semua, haha .... ampun dah* terus ngemil *ckckckck,,, hti-hati ya, kalau mba dindinudin ini lagi bad mood jangan deket-deket ntar disantap hidup-hidup hahaha* terus ... marah-marah ngga jelas, wahh ini calon-calon Miss Geje. Nanti kalau ada pemilihan Miss Award Geje ikutan aja, ya mba dindinudin ;D
8. Nurhikmah Taliasih
Bad mood? Aku, sih kalau bad mood ngapain ya? Ehem, biasanya niiih, kalau aku bad mood, ngorek-ngorek *jangan sangka tempat sampah lho!* kamar temen kos, nyari makanan *ooo jelas!* Terus kalo ngga ada makanan, nggado susu, hehehe daripada kelaperan hayooo!!! Abis gitu, tidur. Kalau ngga ya nge-game, ngedit-ngedit foto, nyari korban buat marah *wuiiss ternyata aku lebih parah dari mbak dindinudin hehe* satu lagi, kalau lagi bad mood biasanya suka nyamperin kampung WR terus wall ngga jelas, terus minta semangka hahaha...
9. Iie Faradina Rosif
10. Launa Zidka Phionex-bla-bla-bla *ngga apal namenyeh! Hehe
Tinggal dua mbak ini niihhh,,, yang kayaknya lagi jadi korban bad mood, wahhh .... “sing legowo ya mbak!” hmm,,, kita tunggu suaranya, “Coblos nomer satu!!!” haha emang pemilu? Ckckck
Wahh,, setiap orang ternyata punya cara sendiri-sendiri, yah! Hemmm... bagi teman-teman yang suka bad mood, pilih alternatif di atas *nyook! Dipilih, dipilih, serebu tiga, serebu tiga,,,, jualan buu??* ettss kalau soal pilih memilih, jangan pilih alternatifku, yak! Hahaha aliran sesat wkwk
Sekian presentasi dari hasil Es Coret Biji Semangka 1, apabila ada kesalahan mohon di maafkan dan apabila ada kelebihan, jangan lupa dikembalikan serta apabila pas-pasan mohon ditambahin sendiri.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh .... *emang salam pembukanya mana?
Salam pena,
Nurhikmah Taliasih
TERLANJUR MENGENAL
Kamu tahu aku menyukaimu
Aku tahu kamu membenciku
Tapi kita….
Sudah terlanjur mengenal
Aku dan kamu
Dalam satu ikatan
Ikatan persahabatan
Tiada maksudku tuk memanfaatkanmu
Walaupun aku menyukaimu
Aku hanya ingin
Kita menjadi sahabat
Seperti dulu
Karena kita….
Telah terlanjur mengenal
Kini….
Kita seperti tak saling kenal
Tiada menyapa
Tiada bicara
Senyum pun tidak
Aku sakit hati
Dengan perlakuanmu
Apakah memang
Lebih baik begini?
Oh Tuhan
Jika ini yang terbaik
Hapuslah aku
Dari kehidupannya
Labels:
Poem
Selasa, 26 April 2011
Pemakaian Tanda Baca
A. Tanda Titik (.)
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
- Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
- Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
- Satu, dua, ... tiga!
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
- Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
- Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
- Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
- Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
- Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
- Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
- Dia tahu bahwa soal itu penting.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
- ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
- ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
- O, begitu?
- Wah, bukan main!
- Hati-hati, ya, nanti jatuh.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
(Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)
Misalnya:
- Kata Ibu, "Saya gembira sekali."
- "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."
7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
- Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
- Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
- Surabaya, 10 mei 1960
- Kuala Lumpur, Malaysia
8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
- Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya: W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4. 10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
- B. Ratulangi, S.E.
- Ny. Khadijah, M.A.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
- 12,5 m
- Rp12,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)
Misalnya
- Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
- Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
- Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
- Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
13. Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
- Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
- Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
- Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
- Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:
- "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.
- "Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.
C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
- Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
- Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".
D. Tanda Titik Dua (:)
1a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
- Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
- Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.
1b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan
Misalnya:
- Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
- Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua
Sekretaris
Bendahara:
:
:Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan
b. Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu:
:
:
:Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30
3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!" Amir : "Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk) Ibu : "Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)
4. Tanda titik dua dipakai: (i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
- Tempo, I (1971), 34:7
- Surah Yasin:9
- Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
- Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.
E. Tanda Hubung (–)
-
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
- Di samping cara-cara lama itu ada ju-
- ga cara yang baru.
Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
- Beberapa pendapat mengenai masalah itu
- telah disampaikan ....
- Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
- beranjak ....
-
-
-
- atau
-
-
- Beberapa pendapat mengenai masalah
- itu telah disampaikan ....
- Walaupun sakit, mereka tetap tidak
- mau beranjak ....
-
-
-
- bukan
-
-
- Beberapa pendapat mengenai masalah i-
- tu telah disampaikan ....
- Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-
- u beranjak ....
2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
- Kini ada cara yang baru untuk meng-
- ukur panas.
- Kukuran baru ini memudahkan kita me-
- ngukur kelapa.
- Senjata ini merupakan alat pertahan-
- an yang canggih.
Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
- anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.
Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
- p-a-n-i-t-i-a
- 8-4-1973
5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
- ber-evolusi
- dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
- tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
- be-revolusi
- dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)
- tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya
- se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara
7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:
- di-smash, pen-tackle-an
F. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
- Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
- Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'.
Misalnya:
- 1910—1945
- tanggal 5—10 April 1970
- Jakarta—Bandung
Catatan:
- Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.
G. Tanda Elipsis (...)
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
- Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
- Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Catatan:
- Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
- Misalnya:
- Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
H. Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
- Kapan ia berangkat?
- Saudara tahu, bukan?
2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
- Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
- Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
I. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya:
- Alangkah seramnya peristiwa itu!
- Bersihkan kamar itu sekarang juga!
- Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!
- Merdeka!
J. Tanda Kurung ((...))
1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
- Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
- Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
- Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
- Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
- Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
- Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.
K. Tanda Kurung Siku ([...])
1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya:
- Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
- Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.
L. Tanda Petik ("...")
1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
- "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
- Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
- Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
- Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
- Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
- Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
- Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
- Kata Tono, "Saya juga minta satu."
5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
- Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
- Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
- Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
M. Tanda Petik Tunggal ('...')
1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
- Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
- "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)
Misalnya:
- feed-back 'balikan'
N. Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
- No. 7/PK/1973
- Jalan Kramat III/10
- tahun anggaran 1985/1986
2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
dikirimkan lewat darat/laut (dikirimkan lewat darat atau laut) harganya Rp25,00/lembar (harganya Rp25,00 tiap lembar)
O. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya:
Ali 'kan kusurati. ('kan = akan) Malam t'lah tiba. ('lah = telah) 1 Januari '88 ('88 = 1988)
Labels:
Artikel,
Tips Menulis
Langganan:
Postingan (Atom)




